Sabtu, 29 Maret 2014

Layang-Layang Impian

        Another old-story, about 2 years ago, hehe..

                                                             *****

“Impian itu seumpama layang-layang. Lemparkanlah ia ke angkasa dan tunggulah apa yang akan ia bawa pulang... apakah suatu kehidupan baru, seorang teman baru, cinta yang baru  atau bahkan sebuah negeri baru.”  Kalimat itu untuk pertama kalinya aku dengar dari bapak belasan tahun silam,entah dari mana bapak dapatkan. Saat itu aku hanya mengangguk-angguk antusias tanpa mengerti benar apa maksudnya. Hanya suka saja mendengarnya, impian dan layang-layang... analogi yang cukup bagus, tapi apa sama-sama bisa diterbangkan? fikirku. Dan saat itu pula, bapak menatapku penuh arti, memintaku berjanji padanya untuk tak akan pernah takut bermimpi, sebab “di dunia ini tak ada mimpi yang ketinggian. Maka jangan pernah berhenti bermimpi~apapun yang terjadi, selagi bermimpi itu gratis, gantungkanlah impianmu dari atas rembulan.”

“bapak.....” panggilku seraya merapatkan rangkulanku di lehernya. Bapak berdehem kecil sembari memperbaiki posisi kaca matanya. “kalau layang-layang impian itu kita lemparkan ke angkasa luas.... apakah dia tidak akan tersesat? Di langit kan nggak ada rambu lalu lintas dan papan penunjuk jalan?” tanyaku ragu.

Bapak terkekeh pelan sambilmenjawil pipiku gemas. “jangan khawatir, sayang.... layang-layangmu akan baik saja selama kau mengikatnya dengan benang do’a dan keyakinan.”

Aku mendongakkan wajah, merasakan semilir angin yang berhembus perlahan sambil tersenyum. Lihatlah, bapak!! Anakmu kini lebih dari mengerti apa yang kau sampaikan belasan tahun silam. Dan anakmu ini telah melemparkan layang-layangnya ke angkasa....

Bukankah hidup ini indah? Setiap hari kita bisa terbangun, membuka mata dan menatap sebuah harapan baru. Melangkah keluar dari kehangatan rumah yang nyaman dan menghirup kesejukan baru. Menatap langit yang mulai bercahaya dan menemukan bahwa disana tersimpan jutaan hal baru. Aku tak pernah berfikir bahwa hidup akan selalu menyenangkan, selalu bahagia dan berakhir happy ending. Tentu saja tidak. Tapi bagiku hidup akan tetap indah. Setidaknya ... selama kita berani bermimpi.
 
***

“nggak sesederhana itu, Lis!” Evi menyanggah kalimat ku sungguh-sungguh. Hampir 2 jam ini Ia terus saja mengaduk milkshake di hadapannya. 

“dunia ini nggak pernah sesederhana analogi-analogi kamu.” Sambungnya lagi lantas menyeruput milkshake-nya.

Aku menatap Evi prihatin. Aku tau rekan kerjaku ini sedang dalam masalah. Dan aku tau pasti masalahnya kali ini cukup serius. Menghadapi suami yang seenaknya, terus menerus mengancam cerai jika Evi sampai dipecat. Dan masalah terbesarnya, kesalahan laporan Evi bulan lalu itu berakibat fatal. Bahkan sangat mungkin bisa membuat Evi angkat kaki dari perusahaan. Dan jika itu yang terjadi, maka urusan sekolah anak-anaknya bakal kapiran.
  “ayyolah, Vi... setidaknya kan kamu masih punya aku untuk berbagi cerita.. semangat laah....” bujuk ku. Dan Evi hanya sedikit mendongakkan kepalanya sejenak untuk kemudian tertunduk lagi.

“Hmmh... susah Lis, cerita masalah semacam ini ke kamu. Karna seorang Elisa nggak pernah punya masalah serius. Hari-hari mu berjalan lancar dan menyenangkan, hasil selalu sesuai rencana, dan rencana nggak pernah meleset dari target. Sedangkan aku?? Rasanya hidup nggak bisa lebih buruk lagi, Lis... kayaknya mati lebih gampang yah!!” Keluhnya. Aku tersenyum getir, amat pahit mendengarnya.

Aku menggenggam tangannya. Menatapnya sepenuh hati. “Vi, mau nggak aku ceritakan sesuatu?” Evi mendongak lagi, lantas mengangguk pelan tak terlalu antusias. Namun anggukan pelannya sungguh cukup untuk membuat ku berdehem kecil mengawali cerita sambil menghela nafas.

“Aku pernah kenal seseorang yang hidup amat bahagia. Seorang gadis dari Keluarga kecil yang hangat. memiliki orang tua yang menyenangkan dan amat penyayang. Seorang kakak perempuan yang perhatian, juga seorang adik lelaki yang penurut dan manis. Di sekolah ia cukup populer, memiliki banyak teman karena kepribadiannya yang menyenangkan, juga prestasi belajar yang cemerlang. Seolah hidup tak bisa lebih sempurna lagi dari ini. Sampai suatu hari dimusim dingin, ayahnya tercinta mengalami kecelakaan pesawat dan tak tertolong. Maka dimulailah hari-hari pedih itu. Sang ibu yang kehilangan separuh jiwanya mendadak limbung, hilang kesadaran. Menolak memercayai bahwa belahan jiwanya telah pergi, meninggalkan ia dengan separuh hati yang telah rusak. Dan sejak itu kerjanya hanya duduk termenung menghadap jendela, setiap hari, sepanjang waktu. Jika dirinya sendiri pun ia tidak ingat, maka jangan tanya anak-anaknya. Mereka harus berjuang  menghidupi diri sendiri juga ibu yang mereka sayangi.

Sang kakak mengambil tanggung jawab itu. Namun apalah yang bisa dikerjakan seorang gadis 15 tahunan, Yang selama ini selalu terjamin hidupnya? Maka ia mulai terjun ke dunia baru yang tak pernah terbayangkan sebelumnya.  Mengundurkan diri dari sekolah, dan mulai berpindah dari satu angkutan ke angkutan lain, dari satu terminal ke terminal lain. Maka hanya soal waktu sang kakak berkenalan dengan barang haram mengerikan itu. Semuanya ia lakukan diam-diam, jauh dari jangkauan adik-adiknya.

Sang ibu mulai sering berlaku aneh, kadang tertawa sendiri, lalu menangis tanpa sebab. Sejenak hening dan kosong, lalu sekejap kemudian menjerit-jerit histeris, mengamuk apapun yang ada di dekatnya. Para tetangga yang mulai khawatir akan keadaan keluarga kecil ini, menyarankan agar sang ibu dibawa ke rumah sakit, sebelum semakin parah. Maka dengan berat hati 3 bersaudara itu membawa ibu mereka ke rumah sakit, meninggalkannya disana.

Si gadis dan adik lelakinya tetap sekolah. Melanjutkan mimpi-mimpi yang tak boelh usai. Berulang kali mereka berniat keluar dari sekolah untuk membantu bekerja, namun sang kakak bersikeras menolak. Cukuplah satu laying-layang mimpi yang terputus, begitu katanya. Dan waktu terus bergulir, tak peduli bahagia atau tidak orang-orang yang menjalaninya. Tapi apakah derita terhenti sampai disitu? Tidak, Vi!! cerita masih panjang, jauh dari usai.

Hanya beberapa lama saja sang ibu menetap di tempat yang seharusnya. Karna kakak beradik ini sungguh tak tega melihat ibu mereka terpenjara di balik pintu kokoh rumah sakit, tanpa mengenal seorangpun di dalamnya. Mereka bersepakat membawa ibu pulang ke rumah, ibu butuh mereka untuk merawatnya... bukan justru membuangnya ke tempat asing yang mengerikan.

Waktu kembali melesat bagai anak panah yang terlepas dari busurnya, menenggelamkan  mereka dalam kehidupan barunya. Sang ibu dengan ilusinya, dan sang kakak dengan dunia gelapnya. Hanya gadis itu dengan adik lelakinya tak mengetahui apa  yang sebenarnya terjadi.  Dan celaka urusan... ketika suatu malam sang adik yang polos dan lugu menemukan obat-obatan kakaknya juga beberapa peralatan aneh yang sama sekali asing baginya.

Ia menuju kamar sang kakak dengan membawa benda-benda itu untuk ditanyakan, namun semuanya berubah menyedihkan... karna sang kakak dan teman-temannya yang sedang di bawah pengaruuh alkohol marah besar mengetahui rahasia mereka diketahui sang adik. Maka secepat kilat semuanya terjadi. Dalam keadaan mabuk sang kakak mencekik adik tersayangnya,  lalu menguburkannya di belakang rumah~juga dalam keadaan setengah sadar.

Seminggu kemudian semuanya terungkap. Dan musnah sudah segalanya. Musnah begitu saja. Gadis itu terdiam menyaksikan segalanya. menangis pedih ketika menyaksikan jasad adik lelakinya yang manis diturunkan ke liang lahat. Menatap terluka sang kakak yang melangkah pelan menuju gerbang pekuburan dengan diiringi aparat keamanan. Memeluk pasrah ibunya yang mau tak mau harus kembali menghabiskan harinya di rumah sakit jiwa.

Apa semuanya terhenti disitu? Tidak, Vi.... diusianya yang belia dan serba tanggung itu, si gadis tentu amat rapuh mentalnya. Dengan dalih demi kebaikan sang gadis, seorang pria separuh baya mengambilnya untuk dijadikan istri ketiga, diusianya yang baru menjejak 16. Namun bukan untuk mengeluarkannya dari sedih berkepanjangan, melainkan untuk mengambil segala yang tersisa darinya.. tannpa ampun. Dua tahun kemudian gadis itu terbaring seorang diri di rumah sakit, menghadapi kelahiran bayi pertamanya tanpa sesiapapun disampingnya. Suaminya?? Entah lah. Sudah sejak beberappa bulan lalu pergi entah kemana. Ia melahirkan seorang bayi perempuan yang manis....”

Evi terdiam, entahlah apa yang ada di benaknya saat ini. Aku menyeruput cappucino di hadapanku. Perlahan.

“Elisa.... kebiasaan jelek deh, motong cerita di tengah jalan!!” protesnya. Aku terenyum kecil... “Lis, terus gimana cewek itu selanjutnya?? Anaknya gimana?”   “hmm... yaa begitu. Sayangnya bayi kecil itu nggak berumur panjang, hanya bertahan hidup satu setengah tahun karna kelainan jantung bawaan.”

“haah?? Terus si cewek itu gimana? Apa ikut mati juga sama bayinya??”. “ uhuk..”sekali ini aku terbatuk mendengar pertanyaan Evi.

“emangnya film...?” sergahku sembari meraih tissue diatas meja. “ gadis itu tetap bertahan, hidup harus tetap berlanjut dengan atau tanpa orang-orang yang dicintainya. Sesulit apapun hari-harinya.”  Lanjutku mantap. Evi melayangkan pandangannya ke langit-langit cafe, entah apa yang sedang difikirkannya.

 "Tapi cerita gak selesai begitu aja kog..." aku tersenyum melihat ekspresinya. "waktu itu cewek ini masih muda, dia lebih dari sanggup untuk membangun kembali impiannya. Dia bekerja serampangan, apapun yang bisa dikerjakannya. Dia terus bekerja dengan rajin dan karna nggak memiliki siapa-siapa lagi untuk ditanggung, dia mengumpulkan upah kerjanya. Dia lalu memutuskan untuk ikut sekolah kejuruan dan memulai usaha sendiri. Lalu bertemu lelaki baik yang bersedia menerimanya apa adanya, gak pernah merasa penting untuk mengungkit masa lalu si cewek. Mereka menikah, memiliki anak dan membangun keluarga. Mereka hidup seperti pasangan pada umumnya, sampai sekarang..." Lanjutku.

 "Jadi itu happy ending...." Gumam Evi samar.
 Aku tertawa memperhatikan gelagatnya. " Ya belum End kali vi, mereka kan masih hidup...." gurauku. "Gak ada juga sih yang jamin kalau cewek ini gak akan lagi mengalami masa2 kritis dalam hidupnya. Tapi seenggaknya kita tahu, kalau saat itu datang, dia akan lebih dari siap untuk berjalan melewatinya. sama seperti sebelumnya..." Lanjutku. Evi terdiam lagi.

“Emmmh.... cerita ini fiktif kan, Lis?? Cuma untuk membesarkan hati aja?” aku hanya diam. Memandangnya sekilas. “Jangan bilang kalau ini sungguhan nyata..” sambungnya.

“Emang kenapa kalau nyata?”

“Emang ada yah... orang yang hidupnya terus-terusan menderita gitu?? Kayak novel aja... Dan emang ada yah.. orang yang terus bertahan dengan kehidupan yang sehancur itu??”

“lah emangnya nggak ada?”  aku melemparkan kembali pertanyaan padanya.

“issh... malah balik tanya. Ya menurut aku sih nyaris impossible. Kamu Cuma ngarang cerita ini buat membesarkan hati aku aja kan??”

“Sayangnya enggak! Kisah ini sungguhan dan aku bahkan  mengenal gadis malang itu.” Jawabku pelan. “kenal dekat” bisikku sok misterius.

Evi nampak bingung, mungkin masih tidak percaya mendengarnya. Sama seperti aku yang nyaris tidak percaya atas apa yang baru saja aku ceritakan dengan ringan padanya.

“kalau gitu kamu bisa donk, kenalin aku ke dia??” tantang Evi penasaran. Dan segera saja ku jawab dengan gelengan kecil, Membuat Evi ber-yaah kecewa.

“kenapa?” desahnya.

“dia mungkin nggak akan suka, ada orang lain yang mengetahui seluk beluk masa lalu nya yang pahit..” jawabku pelan. Lalu hening sejenak.

“mau tau, Vi .. apa yang membuat dia bertahan??” tanyyaku. Secepat kilat Evi mengangguk mantap.

“Karna ayahnya selalu bilang.. Impian itu seumpama layang-layang. Lemparkanlah ia ke angkasa dan tunggulah apa yang akan ia bawa pulang... apakah suatu kehidupan baru, seorang teman baru, cinta yang baru  atau bahkan sebuah negeri baru. Dan benar ternyata... gadis itu menemukan kehidupan baru, teman-teman baru, cinta yang baru, dan keluarga baru. Memang nggak ada kehidupan itu yang selamanya  sedih.. atau selamanya bahagia. Maka jangan pernah merasa bahwa hidup tak bisa lebih buruk lagi...”

“Kalau layang-layangnya nyasar dan ga bisa pulang gimana?” sergah Evi.

“Nggak akan, vi... selama kamu mengikatnya dengan benang do’a dan keyakinan...” jawabku perlahan.

Evi mengusap keningnya... “Elisa... makasih”. “hmm??” gumamku singkat. “ Yeah, meskipun aku tetep gak 100% percaya kalo cerita itu nyata, Aku fikir perasaanku lebih baik sekarang.. terlepas dari cerita itu fiksi atau nyata, aku akan tetap menghargai dukungan kamu buat aku, juga waktu berharga yang kamu sisihkan buat sekedar dengerin keluhan aku yang gak ada habisnya.” Ucapnya sungguh-sungguh.

“sekalipun besok atau lusa yang terjadi adalah yang terburuk dari semua kemungkinan yang ada, kamu harus tetap bertahan... bukan untuk siapa-siapa.. tapi untuk mu sendiri. Juga.. untuk anak-anak. Ketabahan itu sebuah harga yang pantas untuk ditukar dengan kebahagiaan, vi!”

“iya Lis.. semoga!! Sekali lagi thanks yah.... untuk menjadi sahabat yang selalu bisa diandalkan”

“anytime..” jawabku pendek.  Sejenak kemudian, Evi pamit pulang. Banyak yang harus diurus katanya. Setelah titip salam untuk suami dan kedua putrinya dirumah, aku melambaikan tangan, menatap punggung sahabatku itu berjalan menjauh.

***

Kenapa gadis itu bisa bertahan?? Entahlah.. tapi yang pasti gadis itu kini tau sebuah rahasia kecil tentang waktu. Ya... sang waktu tak pernah kalah!! Seiring dengan berputarnya jarum jam, hari berganti, bulan-bulan berlalu dan tahun-tahun pun terlewati, membawa serta bersamanya sejuta harapan baru, semua akan teratasi, menghilang bersama udara, menyatu dengan sejarah. Kita hanya perlu sedikit bekerja sama dengan waktu, membiarkan bekas lukanya memudar. Tangis ataupun tawa di masa lalu... keduanya akan terasa sama saja ketika hari ini kau memandang kembali ke belakang. Begitu saja, tidak istimewa.

Kini punggung sahabatku benar-benar telah hilang dibalik pintu. Aku mendongakkan wajah. merasakan semilir angin yang berhembus perlahan sambil tersenyum lega. Lihatlah, bapak!! Anakmu kini lebih dari mengerti apa yang kau sampaikan belasan tahun silam. Dan anakmu ini telah melemparkan layang-layangnya ke angkasa....

Bukankah hidup ini indah? Setiap hari kita bisa terbangun, membuka mata dan menatap sebuah harapan baru. Melangkah keluar dari kehangatan rumah yang nyaman dan menghirup kesejukan baru. Menatap langit yang mulai bercahaya dan menemukan bahwa disana tersimpan jutaan hal baru. Aku tak pernah berfikir bahwa hidup akan selalu menyenangkan, selalu bahagia dan berakhir happy ending. Tentu saja tidak. Tapi bagiku hidup akan selalu tetap indah. Setidaknya ... selama kita berani bermimpi.

***

*jakarta, 09-08-2012, 00.12 am. (tulisan pertama gw yang rampung setelah vakum 3 tahun-an. Heheee :D)

Gagasan dan Bungkusnya


     Udah berhari-hari blog ini nganggur. hari ini lagi nggak ada film yang mau saya donlot jadi iseng2 aja mampir nengok tulisan2 saya yg sempat tersimpan di document lama. Nah, ditengah pengembaraan menapaktilasi masa lampau itulah saya menemukan tulisan (nyaris) setahun lalu, ketika dunia lagi heboh soal film Innocence of Muslim yang sekarang entah kemana tau, hilang ditelan waktu. Saat itu saya iseng menulis opini di forum dan beberapa readers menanggapi. Saat itu saya menuliskan sebuah pelajaran yang saya ambil dari hasil tulisan saya tersebut, namun entah kenapa gak jadi di posting... karena itulah gak ada salahnya juga sekarang saya post dengan tambahan sedikit pembuka ini. Ini dia pemikiran yang ada di benak saya seputar gagasan dan cara penyampaiannya setahun lalu;

     Lewat beberapa minggu sejak tulisan terakhir saya yang berupa cerpen gagal di save disini, dan saya benar2 berada dalam kerinduan yang rumit. Yah… kenapa saya bilang itu complicated? Karna memang complicated (*plak* kalimat nggak mutu). Jadi saya sedang terjebak ditengah2 kemalasan yang menjerat batang leher, saking sulitnya diusir (atau memang tidak diusir?). begitulah, di satu sisi saya kangen nulis dan disisi lain saya galau harus memulai dari mana, dan galaunya itu yang menang… padahal kenapa juga harus bingung2 memikirkan ide cerita? Hal vital yang kita perlukan dalam menulis itukan utamanya kemauan, niat plus eksekusi!! Ide cerita? Itukan Cuma alasan yang saya buat2 sendiri saja?? Toh, dengan ide cerita segudang pun tulisan fiksi saya nggak satu pun yang selesai, karna mesti terjadi: ditengah2 kegiatan menulis saya bingung mau dibawa kemana cerita ini. Haha…
     Maka marilah hari ini kita paksakan diri untuk menuliss, sekedar melemaskan jemari dan mengasah reflex fikiran sebelum saya benar2 lupa bagaimana bentuk huruf ‘A’. tadinya tulisan saya kali ini ingin membahas soal gagasan dan cara penyampaian yang brillian. tapi lagi2 saya bimbang mau dilanjut atau tidak ini… karna saya benar2 tidak dalam kondisi fikiran yang bagus untuk menulis (tuh kan, alasan lagi…).
     Baiklah, supaya basa-basi saya tidak kelewat lama (meskipun saya tau sudah kelewat lama ini), maka here we go:
     Beberapa waktu lalu saya pernah menulis tentang respon atas respon (?) dari film innocence of muslim yang cukup meresahkan. Saya menyesalkan respon keras sebagian besar masyarakat (dalam hal ini muslim) atas film ini melalui tulisan yang saya publikasikan di forum kompasiana. Dan…. 6 dari 10 orang yang komen tidak sependapat dengan saya, bahkan menyerang dan menuduh kalau saya ini liberal (aduh…). Padahal apa yang saya sampaikan itu simple sekali sebenarnya, intinya jika kita ingin membalas orang tidak bertanggung jawab yang telah membuat film tersebut, maka balaslah dengan elegan. Melalui jalur hukum internasional yang sah. Menanggapinya pun harus dengan kepala dingin karna sekarang bukan eranya lagi angkat pedang. Yah… sederhananya begitulah yang ingin saya sampaikan. Hendaknya kita meniru cara baginda rasul dalam menghadapi hinaan. Tapi kenapa justru disalah pahami???
     Usut punya usut, ternyata saya menemukan (sedikitnya) 2 penyebab utama terjadinya kesalahpahaman seperti ini. Yang pertama adalah kebiasaan orang2 sekarang yang terlalu cepat komen. Terkadang kita menilai tulisan hanya dari satu-dua paragraph yang kita baca, kita mengabaikan inti dari tulisan tersebut karna terburu nafsu ingin segera membantah, karna memang pembantah adalah tabiat manusia (ini kata Al Qur’an loh!). Mulai sedikit orang2 yang memberikan dirinya kesempatan untuk berfikir, memberi jarak waktu dari membaca sampai berkomentar.  Tapi yeah... saya tidak akan membiarkan diri saya terjebak dengan alasan yang seperti itu. Itu kan bisa dikatakan menyalahkan orang lain atau membuat2 alasan. Lagi pula, alasan yang seperti ini tidak hakiki, seolah menjadi pembenaran saja dan itu akan menghhambat saya untuk maju dan introspeksi.
     Saya akan menekankan pada alasan kedua yang saya temukan terkait kasus ini, yaitu: cara saya dalam menyampaikan belum tepat. Yup… saya rasa inilah penyebab utamanya, sebab kemampuan menulis saya masih dangkal dan sangat terbatas. Saya menyampaikan maksud dengan mendikte dan bisa jadi sebagian besar orang dewasa tidak suka di dikte. Di hari yang sama ketika saya mempublikasikan tulisan saya itu, saya ‘jalan-jalan’ ke fanpage nya penulis favorit saya. Dan menemukan tulisan beliau senada dengan pemikiran saya tentang respon masyarakat terhadap film kontroversial tersebut. Kami benar2 ingin menyuarakan akar pemikiran yang sama dalam hal tersebut hanya saja, dengan penyampaian yang berbeda, tulisan beliau lebih bisa diterima positif oleh pembaca karena dibungkus dengan amat baik.
    Beliau menjelaskan pemikirannya melalui sebuah cerita berjudul: kisah tangan kanan dan membela nabi kita. Cerita sederhana tentang anak kecil bernama bambang yang mengalami kecelakaan dan tangan kanan nya harus diamputasi, sehingga ia takut nabi akan marah karna bambang tak bisa lagi makan dengan tangan kanan seperti sunnahnya. Di paragraf2 akhir barulah dipaparkan  pandangan penulis tentang pembuktian cinta kita terhadap rasul yang cenderung norak, jika dibandingkan dengan kecintaan bambang yang cemerlang akan sunnah nabi. Kita seolah2 siap mengangkat senjata jika nabi kita dihina, namun tidak menghidupkan wasiat2nya dihati kita dan mengamalkan sunnah2nya di rumah kita, dalam keseharian kita. Penulis itu mengangkat permisalan dari sesuatu yang biasa kita anggap remeh temeh, padahal sejatinya adalah refleksi kecintaan kita terhadap baginda nabi. beliau memandang sesuatu secara sederhana dan real, sehingga penyampaiannya tidak terkesan berlebihan juga tidak memaksakan kesimpulan pribadi. Saya tersentak ketika menyadari, sungguh dalam hal ini kemasan menjadi begitu penting bagi kita semua. dan saya sungguh bersyukur sempat menyadari bahwa cara saya menanamkan pemahaman sungguh masih jauh dari arif bijaksana. Semoga esok-lusa, saya bisa semakin baik dalam segala hal… (4 april 2013)


Rabu, 19 Maret 2014

El Temur, Politik dan Pemilu 2014

     Saat ini Indonesia tengah bersiap diri menyongsong Pemilu 2014 yang disebut-sebut merupakan penjelmaan dari pesta demokrasi. KPU telah menetapkan 12 Partai Politik sebagai peserta sah untuk pemilu 2014. Ditengah situasi nasional yang dibelenggu oleh isu korupsi, sebenarnya belum jelas betul bagaimana Pemilu 2014 akan terlaksana. Sebab UU Pilpres sendiri tengah digugat di Mahkamah Konstitusi. Gugatan yang diajukan adalah menyerentakan Pemilu Legislatif dengan Pemilu Presiden dan Wakil Presiden. Selain itu gugatan juga terkait ketentuan ambang batas dalam UU Pilpres yang menyatakan bahwa parpol yang berhak mengusung capres adalah parpol yang mendapatkan 25 persen suara nasional dan 20 persen kursi di DPR.

     Kampanye sudah dimulai sejak beberapa hari lalu, tepatnya pada 16 Maret dan baru akan berakhir sekitar 5 April nanti. Namun ditengah semarak janji-janji politisi ini, ada juga seorang pemudi yang seharian meghabiskan waktu di depan laptop dalam kamar kost berukuran 3x4. Apa yang dia lakukan? Menonton film. Baginya film yang dia tonton saat ini lebih menarik daripada carut-marut pemberitaan media seputar pemilu yang sedang hangat-hangatnya.

     Di episode 37 serial yang ditontonnya itu ada sebuah scene yang menarik perhatian. Ketika perdana mentri Yuan (Tiongkok) yang zalim dan kejam pada akhirnya dilengserkan dari posisi itu setelah 30 tahun berkuasa. Peristiwa pelengseran itu sama sekali tak mudah karena harus melalui pertumpahan darah di istana dan seluruh ibukota, maklum saja… sang perdana menteri menghabiskan 30 tahun masa jayanya untuk menimbun harta, membangun pasukan, serta memperluas pengaruhnya di seantero negeri. Namanya sangat ditakuti hingga bahkan kaisar sekalipun tak berani menantang kehendaknya.

     Namun di dunia ini tak ada yang abadi, apalagi sebuah kekuasaan yang selalu di perebutkan dan membuat seseorang rela bertaruh nyawa demi meraihnya. Adalah seorang panglima perang yang telah menjabat gubernur provinsi Liaoyang dan keponakannya, yang menggiring belenggu kayu berisikan perdana menteri tua itu. Di masa muda, sang perdana menteri adalah panglima yang telah melintas gurun dan mengarungi samudra untuk berperang demi negrinya, sosok perdana menteri ini merupakan figure pahlawan bagi sang gubernur. Namun ironis, kini ia sendiri yang harus mengarak mantan pahlawan (yang bersalah atas pemberontakan untuk mengkudeta kaisar) menuju istana.

     Di tengah perjalanan, mereka sampai ke sebuah pasar yang ramai. Disana rakyat jelata berkumpul untuk menyaksikan seorang tiran tua yang kejam dan sangat dibenci melewati saat-saat terakhirnya. Rakyat yang memendam kebencian mendalam atas kesewenang-wenangannya mulai mencemooh sang perdana menteri sambil melemparkan batu dan sumpah serapah, sebaliknya, kepada sang guberbur rakyat meneriakkan puji-pujian doa panjang umur serta mengagungkan dewata. Sang gubernur menghentikan iring-iringan dan berkata kepada perdana menteri:

     ~Inilah isi hati rakyat yg sesungguhnya.  Inilah kemarahan rakyat pada perdana mentri selama 30 tahun terakhir, hasil selama masa pemerintahan anda. Kejahatan terbesar anda yg lakukan sesungguhnya bukanlah pembantaian tapi kegagalan politik. Kejahatan karena korupsi akibat kebijakan yang salah dan merusak negeri ini.
     
     ~ Bayan, kau masih ingat? Dulu sekali... sewaktu aku menghancurkan pemberontak dan kembali sebagai pemenang, nama El Temur selalu diagung2kan dan dipuji. Mereka berharap aku menggantikan kaisar yg lemah, mengurusi masalah negara. Meski sekarang rakyat memuji-muji namamu, nantinya akan datang hari dimana mereka mencerca dirimu. Mereka akan mengatakan kekaisaran dibawah perlindunganmu tidak sebaik dimasaku kala mengenang zaman itu. Di dunia ini tak ada yg lebih sulit dibandingkan memenangkan hati rakyat. Pada akhirnya kau akan sama sepertiku, tenggelam dalam kekuasaan. Tertekan dan berakhir dengan menyudahi hidupmu. Beginilah hidup.

     Sang gubernur terdiam, kalimat perdana menteri tadi memunculkan keraguan di matanya… namun kemudian ia memerintahkan agar iring-iringan itu melanjutkan perjalanan. Gubernur itu, dengan segala jasanya menangkap oposisi yang lebih berkuasa dari kaisar, tentu akan dihadiahi jabatan sebagai perdana menteri berikutnya. Jabatan yang memang sejak lama diinginkan oleh gubernur tersebut. Ia berjuang mati-matian membela kaisar demi menjatuhkan perdana mentri karena ingin berkuasa dan memerintah demi kebaikan Yuan, niatnya (saat itu) tulus demi mengembalikan kejayaan negerinya. Ia bahkan pernah berkata kepada keponakan yang merupakan pengikut setianya “jika suatu hari nanti aku berubah menjadi seperti El Temur, maka saat itulah kau harus membunuhku.” Kalimat itu sangat berkesan, karna ia memilih mati sebagai manusia dari pada hidup sebagai budak kekuasaan.

     Tapi pertanyaannya, akankah sang gubernur mampu menepati niat tulusnya itu? Kekuasaan adalah sesuatu yang mengerikan. Begitu luar biasa dan menggiurkan, bahkan memabukkan. Kita tidak akan pernah tahu bagaimana kelanjutan ceritanya, karena sang gubernur runtuh disaat kekuasaannya bahkan baru dimulai. Adalah sang keponakan, pengikut setia sekaligus orang yang paling dia percayai, yg pada akhirnya duduk di tampuk kekuasaan. Kekuasaanlah yang membuat si keponakan tega mengkhianati paman yang sebelumnya ia anggap ayah sendiri.

     Apa sesungguhnya kekuasaan itu? Hal yang mampu membuat kawan jadi lawan atau sebaliknya, mampu membuat hati manusia membatu, bahkan mampu memutus pertalian darah yang telah digariskan langit. Apa sesungguhnya kekuasaan itu?

     Pertanyaan itulah yang muncul di benak si pemudi sesaat setelah menyelesaikan serial tersebut. Scene tadi sangat relevan dengan kondisi bangsanya saat ini. 12 partai yang masing-masing mengusung kader untuk maju di arena duel mempertaruhkan kursi presiden, orang nomor satu di negerinya. Ingatannya bergulir ke masa lalu, masa2 pemilu pertama…. Tahun 1999 dimana K.H Abdurrahman Wahid keluar sebagai pemenang yang merupakan periode kepemimpinan pertama yang masih diingatnya. Tak banyak yang bisa pemudi ini mengerti dari kebijakan presiden keempat ini, mengingat usianya yang baru 6 tahun, kecuali sekolah libur panjang hampir sebulan penuh. Begitu Juga pemerintahan-pemerintahan selanjutnya dimana megawati Soekarno Putri mengambil alih kepemimpinan, hingga kemudian sosok Susilo Bambang Yudhoyono muncul dan mendominasi selama dua periode berturut-turut.

     Tak banyak yang bisa dia mengerti saat itu atau bahkan hingga sekarang jika itu menyangkut soal perebutan kekuasaan dan manuver politik. Tapi mencari data dan rekam jejak kepemimpinan seorang kepala negara tentu tidaklah sulit, dengan segala kemudahan akses yang disediakan internet dewasa ini, siapapun bisa dengan mudah menemukan apapun—terlepas dari tingkat akurasinya. Tidak sulit menengok kembali bagaimana pelantikan seorang Gus Dur disambut dengan pujian dan optimisme untuk kemudian diturunkan dengan cibiran, baru setelah kepergiannya dari dunia ini, orang-orang berebut menulis buku tentang beliau, bahkan kalau boleh mungkin sudah memasang tugu untuk menghormatinya.

     Yang dialami Megawati juga tak jauh berbeda, naik ke tampuk kekuasaan menggantikan Gus Dur dengan disambut antusiasme rakyat yang berharap kepemimpinannya akan menghidupkan kembali semangat juang sang ayah, bapak ideology bangsa, namun berakhir dengan menunjukkan ketidakmampuannya mengurus bangsa. Dan Susilo? Bukankah bertahan dua periode menunjukkan kapabilitasnya memimpin bangsa? Entahlah. Sosok presiden yang begitu diangungkan pada masa-masa awal pemerintahannya kini seolah kehilangan kharisma. Apa kata rakyatnya? Beliau dan istri mungkin pasangan pemimpin paling eksis di jagad raya ini. Membuat lagu, rekaman, berfoto bahkan sibuk ‘mention-mentionan’ di twitter, pantas saja Indonesia aman-damai-sentosa-sejahtera-dan tak ada prahara. Bisa di mengerti dari mana sikap rakyat yang cinta damai ini berasal, mengingat pemimpinnya juga woles-woles aja.

     “Meski sekarang rakyat memuji-muji namamu, nantinya akan datang hari dimana mereka mencerca dirimu. Mereka akan mengatakan kekaisaran dibawah perlindunganmu tidak sebaik dimasaku kala mengenang zaman itu.” Apakah kalimat ini semu belaka? Tidak. Contoh mudahnya terjadi tepat didepan mata, dimana masyarakat kini mulai membanding-bandingkan masa pemerintahan Soeharto dengan pemerintah sekarang seolah lupa betapa mereka dulu begitu menginginkan reformasi. Pemudi itu tidak tau pasti mana yg lebih baik, karena di masa Soeharto ia mungkin baru saja belajar bicara. Namun Ia memutuskan untuk tidak langsung menghakimi berdasarkan kesaksian media. Hal serupa terjadi pada pemimpin-pemimpin setelahnya, yang disambut dengan suka cita untuk kemudian dilepas dengan caci maki.

     Mungkin kata-kata perdana menteri tadi cukup merefleksikan kenyataan yang berlaku di dunia nyata. Tak ada yang lebih berat daripada memenangkan hati rakyat, tapi sebenarnya ada yang lebih sulit dari itu, yakni mempertahankan kepercayaan rakyat. Dan yang lebih sulit lagi?? Tentu mempertahankan ketulusan niat kita sendiri ketika kekuasaan sudah berada dalam genggaman. Kekuasaan yang absolut mampu memunculkan seorang tiran dan kekuasaan yang lama mampu mengaburkan tujuan. Seorang guru pernah berkata bahwa sejarah selalu berulang, maka marilah kita tunggu dan lihat saja apa yang akan terjadi setelah ini, untuk kemudian membuat konklusi tentang apa sesungguhnya kekuasaan itu…

Minggu, 09 Maret 2014

Filosofi Flappy Bird

     Akhir-akhir ini ada beberapa permainan yang lagi happening, diantaranya sebut saja Flappy Bird. game ini bisa kamu dapatakan secara gratis di google play store untuk android. Namun belakangan game ini tiba-tiba menghilang dari peredaran. Kurang tau pastinya sih, tapi sempat baca sekilas kalau game yang sudah diunduh jutaan kali itu membuat banyak orang kecanduan dan jadi malas belajar, padahal si pembuat itu berharap Flappy Bird hanya menjadi selingan di waktu kosong. Jadilah si empunya aplikasi memilih untuk menghapusnya (sungguh gamer berhati mulia, ck...ck...ck :p). Karena sudah dihapus, kamu tidak akan lagi menemukan game ini di Play Store, namun bagi yang sudah mendownload sebelumnya bisa tetap memainkan game 'burung lompat' ini dengan catatan tidak ada pembaruan, artinya game ini statis dan tidak akan dikembangkan lagi.


     Saya juga termasuk orang-orang yang kudet gak terlalu hobi sama games, jadi saya baru mencari Flappy Bird ini ketika sudah kadung dihapus sama mbah Google Play Store. Tapi gini-gini saya lumayan pantang nyerah loh, akhirnya saya mendapatkan permainan ini dengan cara ngebluetooth mentahan file milik om +laukhin m , thanks om, heheeee. Nah setelah beberapa waktu bermain saya juga merasakan efek kecanduan *sigh* sebenarnya alasannya simply penasaran karena terus-terusan gagal (red: jatuh), jadilah saya gak berhenti-berhenti main, ditambah lagi kan si +Nurisya Febrianti juga suka main Flappy Birds dan kita *dengan gak pentingnya* jadi asyik balapan point, hehe.

     Tapi memang sejak dahulu kala (bahkan sebelum lahir) saya ini orangnya gampang bosen, maka gak sampai 2 minggu edisi keranjingan Flappy Birds ini berakhir dengan sendirinya. Kesibukan  mampu mengalihkan perhatian saya dengan baik dari game ini. Point tertinggi yang mampu saya raih stop di angka 22, heheee, tapi bukan berarti saya gak akan main lagi, hanya saja sudah gak terlalu excited sekarang. Nah, sebagai peneliti--abal2-- sekaligus pengamat--jadi2an-- saya menemukan beberapa hal yang bisa disampaikan dari permainan ini. Untuk itulah saya membuat postingan khusus tentang game ini.

Here we go :

  1. Game ini gak beda-beda jauh sama nulis. The more you practice the more you can get (eh? gitu yah? wkwkwk). Maksudnya adalah, semakin sering kita mainin, semakin jago juga kita. Jadi praktek tuh necessary banget. Saya(kita semua kayaknya) kalo udah lama gak nulis fikiran jadi buntu, tangan juga kaku.  Hal yang sama berlaku juga buat Flappy Bird ini... 
  2. Konsentrasi itu gak bisa bertahan lebih dari satu jam. Itu berlaku buat saya, meskipun belum tentu sama bagi orang lain, Kan kemampuan fokus orang beda-beda. Tapi general truthnya adalah... konsentrasi tuh gak bisa dipaksain. kita bisa aja keukeuh tetep main meskipun tangan udah kemeng, tapi nyatanya... score sama sekali gak naik kan? karna fisik dan fikiran kita mungkin punya batas waktu on maksimal yang gak bisa kita kendaliin semau kita.
  3. Dalam perjalanan mengarungi Flappy Bird (?), seringkali kita kehilangan fokus ketika nyaris sampai di garis akhir. Bagi saya, score bertambah satu aja  udah seneng banget (kan ceritanya susah tuh, mertahanin si burung bodoh biar tetep di udara), jadi ketika saya udah ngelewatin highscore sebelumnya, saya keburu girang duluan. yang harusnya masih bisa nambah3-4 point lagi, jadi cuman nambah 1 deh. karna kita kadung seneng.... hehehe.
  4. Kalau ada ide yang mau ditulis itu harus langsung ditulis. Alasan kenapa bahasa postingan ini berantakan tak tertolong adalah : karena ide ini udah lamaaa banget bercokol di kepala tapi gak segera dikeluarin. Akibatnya, sekarang ketika saya ada mood buat nulis, saya malah bingung apa aja sih yang mau saya tulis kemaren?? Kalau waktu itu saya langsung nulis ketika saya dapet ide, mungkin saya bisa menjelaskan dengan lebih baik....
     Yah, demikianlah postingan random dihari senin yang boring ini, itung-itung ngisi waktu sembari jaga posko yang sepinya lebih2 dari kuburan.