Rabu, 31 Desember 2014

BBM Turun Malam Nanti, Sudah Tepatkah Keputusan Ini?

“Pada suatu waktu, seorang ayah dan anak pergi ke pasar hendak menjual keledai. Pada saat berangkat mereka berdua menaiki keledai tersebut bersamaan. Sampai pada suatu tempat dimana banyak kerumunan orang yang berbisik-bisik mengomentari betapa kejam nya si ayah dan anak ini karena keledai kurus tersebut harus menanggung dua orang sekaligus. Mendengar bisik-bisik tersebut, si ayah berinisiatif untuk turun dan membiarkan sang anak yang menaiki keledai tersebut.

Tak lama kemudian mereka kembali melewati sekelompok orang yang mencibir sinis terhadap si anak yang durhaka karena enak-enakan naik keledai sementara ayahnya yang sudah tua harus berjalan kaki. Mendengar hal tersebut, si anak pun turun dan ganti ayahnya yang naik keledai.


Beberapa waktu kemudian mereka berpapasan dengan orang-orang di perjalanan yang geleng-geleng kepala sembari mengomentari betapa teganya sang ayah meminta anaknya yang masih kecil untuk berjalan di siang terik seperti ini sementara dia naik keledai sendirian. Mendengar hal tersebut, bingunglah si ayah dan anak tersebut. Mereka berdua akhirnya memutuskan turun dari keledai tersebut dan berjalan kaki saja.

Akan tetapi sesampainya mereka di pasar, orang-orang memandang heran terhadap ayah dan anak ini. “Sungguh aneh… Apa mereka berdua ini bodoh? Kenapa mereka susah payah jalan kaki jika ada keledai yang bisa dinaiki?”. Kemudian Si ayah dan anak saling berpandangan dengan bingung.”

                                                                        *****

Sebagian besar dari kita mungkin sudah akrab dengan anekdot di atas. Tentu saja kita bisa dengan mudah menarik kesimpulan tentang pesan moral yang terkandung dalam kisah tersebut, bahwa ketika kita punya tujuan dan yakin dengan apa yang kita lakukan, maka satu-satunya yang harus kita pertahankan adalah fokus terhadap tujuan tersebut. Tak ada alasan untuk kita bimbang hanya karena komentar negatif orang lain, karena memang tidak semua komentar perlu kita respon. Toh, akan selalu ada orang-orang yang tak sejalan dengan fikiran kita.

Dalam banyak kasus, apa yang terjadi di negeri kita belakangan ini mengingatkan saya akan anekdot tentang ayah, anak dan keledainya. Pemerintahan baru mulai bergerak, menyusun rencana dan memulai langkah awal. Akan tetapi pro dan kontra terhadap kebijakan-kebijakan yang diambil pun bermunculan. Hal tersebut wajar saja mengingat sistem demokrasi yang kita anut memberikan ruang bagi kebebasan publik untuk berpendapat, dan memang tak ada yang salah dengan itu. Salah satunya, kasus kenaikan BBM yang menuai kontroversi di berbagai lini beberapa waktu silam.

Keputusan pemerintah menaikan harga BBM November lalu mendapat banyak kritik, baik dari pihak oposisi maupun koalisi pemerintah sendiri. Alasan yang di kemukakan pihak yang kontra dengan kenaikan BBM sejauh ini tidak jauh beda dengan alasan yang di gunakan pihak oposisi pada pemerintahan sebelumnya, neoliberal, tidak pro rakyat, dan lain lain. Akan tetapi ada suatu keunikan dalam kasus ini yang menarik untuk dipertanyakan, yaitu; “Mengapa pemerintah menaikkan harga jual BBM dalam negeri ketika harga minyak dunia justru sedan turun?”

Pertengahan November 2014 ketika pemerintah menaikkan harga BBM, harga minyak dunia hanya berkisar US$ 80/Barel, bahkan taksiran hingga januari 2015 hanya sekitar US$ 70/Barel. Hal ini jauh dari asumsi pemerintah ketika menetapkan rancangan APBN yaitu US$ 105/Barel. Hal ini lah yang dipandang janggal oleh pihak yang kontra, karena selama ini kenaikan BBM biasanya dipicu oleh melonjaknya harga minyak dunia. Protes pun  bermunculan dalam berbagai bentuk, mulai dari kritik pengamat, demonstrasi, hingga ejekan dan sindiran di media sosial.

Seperti yang kita tau, besarnya subsidi BBM bergantung kepada selisih harga jual global dengan harga jual dalam negri. Semakin jauh perbedaannya, maka semakin bengkak pula pengeluaran kita, dan tentunya semakin banyak juga uang negara yang dibakar menjadi polusi asap kendaraan bermotor. Jumlah subsidi BBM yang sudah mencapai angka 276 Triliun sebenarnya sudah bisa dikategorikan sebagai penyakit kronis bagi pembelanjaan negara yang ironisnya sebagian besar ditopang oleh utang luar negeri. Langkah awal pemerintah menaikkan harga BBM sebenarnya sudah sangat tepat, karena menurut perhitungan para ahli, kenaikan Rp 2000 ini disinyalir mampu menghemat sekitar 100 Triliun pertahunnya. Akan tetapi, dengan harga minyak dunia yang terlihat stagnan di kisaran angka 80 hingga sekarang ini, pihak yang kontra pun seolah mendapat angin. Pada akhirnya pemerintah mengatakan akan menurunkan kembali harga BBM pada tengah malam nanti dan akan mulai diberlakukan keesokan harinya.

Saya bertanya-tanya, perlukah pemerintah menurunkan kembali harga BBM? Seperti si ayah dan anak yang bolak balik turun-naik keledai hanya karena bimbang dengan komentar orang-orang? Jika itu menurut saya pribadi, maka penurunan BBM adalah langkah yang kurang tepat. Alasannya? Banyak, pertama saya tidak berfikir turunnya harga BBM akan berdampak signifikan terhadap harga-harga yang terlanjur naik, terlebih lagi di sektor transportasi. Selain itu, turunnya harga minyak dunia tak akan berlangsung selamanya, cepat atau lambat, harga minyak akan kembali ke kondisi normal. Saat itu terjadi, bagaimana cara pemerintah menutupi anggaran belanja yang membengkak? apalagi setelah pemerintah menjanjikan kenaikan gaji yang cukup besar kepada asosiasi buruh 2015 ini?

Apakah masalah berhenti sampai disitu? Tidak. Ada hal lain yang lebih mengkhawatirkan dibanding kerugian secara materil. Menurunkan harga BBM sama hal nya mengembalikan masyarakat kepada kebiasaan konsumtif dan boros. Padahal setelah kenaikkan BBM kemarin, masyarakat sudah mulai hemat BBM dan beralih menggunakan pertamax. Tercatat seminggu setelah kenaikan, konsumsi permium turun dari 87.000 KL/hari menjadi 72.000 KL/hari, sebaliknya konsumsi pertamax naik sampai 81%. Alih-alih peduli dengan kenyataan bahwa cadangan minyak bumi semakin menipis, menurunkan harga BBM justru membuat mental masyarakat Indonesia terbiasa meminta gratisan dan tidak sadar akan pentingnya berhemat bahan bakar demi masa depan sendiri.

Saya pribadi sangat mendukung penarikan subsidi BBM sejak awal, bukan karena saya tidak merasakan imbasnya ataupun tidak peduli kepada penderitaan saudara sebangsa. Saat ini saya masih berstatus mahasiswa yang kuliah sambil bekerja untuk membiayai sekolah dan kebutuhan sehari-hari, jadi naiknya harga bahan baku dan tarif angkutan sangat terasa dampaknya bagi saya. Akan tetapi pada kenyataannya, rencana pembangunan infrastruktur dan prasarana umum untuk rakyat dan rencana belanja sektor produktif terganjal masalah APBN yang banyak penyakitnya, utamanya terkait subsidi BBM. Jadi selama pemerintah menggunakan dana ex-subsidi itu dengan benar, saya dengan sepenuh hati bersedia membayar sedikit lebih mahal untuk segala sesuatunya. Bukankah lucu jika kita ingin membangun negri yang keren tapi tak mau ikut iuran untuk membeli bahan bangunannya? Sudah saat nya kita bersedia bekerjasama dan bahu membahu menanggung beban negara. Saya ingin berhenti bertanya tentang apa yang negera ini telah berikan untuk saya, melainkan mulai berfikir tentang apa yang sudah saya lakukan untuk tanah air ini.


Apakah saya menulis ini karena saya fans pemerintah? Absolutely not!!! Justru saya sangat kecewa dan menyayangkan keputusan pemerintah menurunkan kembali harga BBM. Sejauh yang saya amati, keputusan ini tidak membuat rakyat kembali memihak pemerintah, justru sebaliknya, rakyat akan memandang pemerintah plin-plan dan grasak-grusuk dalam mengambil kebijakan. Apakah pencitraan itu penting? Tentu saja penting, tapi jika itu berbenturan dengan prinsip dasar dan tujuan utama kita, tinggalkanlah! Segera tinggalkan jika kita tak ingin terlihat bodoh dan tak punya prinsip seperti ayah dan anak pemilik keledai. Ketika kita yakin dengan jalan yang kita tempuh, tak ada salahnya kita bawa kapas untuk menyumbat telinga dari komentar-komentar manusia yang tak akan pernah ada habisnya. Toh, belum tentu mereka sungguhan peduli soal benar atau salahnya kita.

Selasa, 30 Desember 2014

Big Hero 6 In Action

Kemarin Jae Myung dan Ha Myung, sekarang Hamada brothers. Akhir-akhir ini gak tau kenapa gw lagi termehek-mehek mulu sama storyline yang bawa-bawa tema brotherhood. Anehnya, sementara chemistry sisterhood yang dibawa Anna dan Elsa dari kerajaan Arendelle nggak work out di gw, entah kenapa TV-series Pinocchio dan movie Big Hero Six justru ngena banget. I really am into them!!! Itulah kenapa akhirnya gw nulis ini… karena seperti yang dulu-dulu, gw nggak akan bisa move on dari sesuatu yang gw suka sebelum melampiaskan rasa suka gw lewat tulisan. Begitulah cara gw move on dari HTTYD 2 dan Toy Story, juga film-film lain mungkin… seandainya gw gak menangin rasa males gw.


Gw especially bukan penikmat cerita-cerita Marvel, nonton film mereka pun sekenanya aja lewat televisi. Tapiiii…. Setelah ngeliat promising trailernya… gw malah jadi ngebet banget nonton, hehe… jadi yah biarpun tujuan awal ke Jogja mau wisata alam, gw sempetin mampir ke AmPlaz buat liat film animasi besutan Disney yang terinspirasi komik Marvel ini. Meskipun sebenernya semenjak guardians of galaxy beberapa waktu lalu, gw mulai membuka diri buat studio yang beken dengan komik-komik superhero nya ini. Dan… I regret it. Nyesel kenapa nggak dari kemaren2 aja nontonnya, biar bisa ikutan euphoria, hehe


Big Hero 6 awalnya berkisah tentang kakak-beradik yatim piatu yang tinggal bersama bibi mereka di sudut sebuah kota fiktif bernama San Fransokyo (mash up antara San Fransisco dan Tokyo). Mereka adalah Tadashi Hamada dan Hiro Hamada. Keduanya memiliki minat yang sama dibidang robotika. Hiro yang jenius lulus SMA di usia 13 dan nggak berminat masuk kuliah karena menurut nya kampus cuma tempat orang2 ngejar nilai dimana para dosen yang boring dibayar untuk ngajarin mereka hal2 yang udah mereka paham. Akhirnya Hiro berkelana menjelajahi tempat2 adu robot yang sebenarnya illegal di kota tersebut. Nah, Tadashi yang baik hati (pintar juga sih… dan ganteng pulak, hehe) sibuk bolak-balik nyelamatin adeknya yang justru sibuk bikin masalah dimana-mana. Biasanya abang Tadashi ini nanya dulu keadaan Hiro apa dia baik2 aja? Nggak terluka kan?... baru kemudian ngomel2 sambil jitakin adiknya. Lucu. Tapi namanya juga mereka masih bocah… akhirnya bibi Cass Hamada juga yang kena getahnya bolak-balik dipanggil ke kantor polisi. Haha.


Hiro bener-bener nggak peduli tentang kuliah, sampai akhirnya Tadashi ‘memaksa’ dia berkenalan dengan kampus yang dulu diejek sebagai “nerd school” sama Hiro dan memperlihatkan proyek yang mereka kerjakan di kampus itu. Hiro juga berkenalan dengan Go Go yang tomboy dan nekad, HoneyLemon yang ahli kimia, Wasabi dengan proyek lasernya, dan Fred yang bukan mahasiswa situ tapi suka keliaran di area kampus, ngakunya sih maskot kampus. Wkwk. Tadashi juga memperlihatkan proyeknya yang baru selesai, yaitu robot perawat pribadi dari balon dengan chip program medis yang rumit bernama Baymax.



Hiro suka sekali dengan “nerd school”nya Tadashi dan dia punya keinginan baru sekarang, yaitu masuk universitas tersebut melalui jalur khusus. Untuk itu Hiro membuat Microbot dengan pengendali berupa transmitter yang dipasang di kepala. Sebuah proyek yang sangat mengagumkan, tapi siapa sangka… microbot itu pula yang menyebabkan ia kehilangan Tadashi yang sangat disayanginya dalam sebuah kejadian tragis malam itu. Juga pemicu awal dari bencana-bencana lainnya. Akan tetapi Hiro lalu menemukan kenyataan bahwa tragedy malam itu bukanlah kecelakaan, melainkan dilakukan dengan sengaja. Dari sanalah Hiro beserta keempat sahabat Tadashi plus Baymax si cute bertransformasi menjadi hero dengan kostum robotic berkekuatan super rancangan Hiro. That’s how the story begin…



End. Karena kalo gw ngelanjut cerita filmnya, 200 lembar juga gak bakal selesai, haha, bisa lebih panjang dari synopsis. Gw kan nulis ini biar bisa move on, jadi pastilah isinya curhatan2 histeris ala-ala fangirl gituhh :p Aissh… Heartbreakin’ sekali liat kondisi Hiro pasca kematian Tadashi, Satu-satunya keluarga yang dia punya. I mean… keluarga inti gitu. Emang sih dia punya Bibi Cass yang sayang banget sama mereka, tapi Tadashi berarti baginya lebih dari seorang kakak. Tadashi juga figur seorang guru, orang tua, teman dan penyemangat bagi Hiro, seseorang yang gak pernah nyerah dengan kekeraskepalaan Hiro, dan berjanji nggak akan pernah nyerah atas Hiro apapun yang terjadi. Jangankan Hiro, gw aja sedih loh Tadashi pergi…hiks.


Saat itulah muncul Baymax, proyek terakhir dimana tadashi menyimpan harapan dan semangat kebaikannya dalam sebuah chip. Ia ingin Baymax bisa menolong orang banyak dengan program health care nya, dan pasien pertama Baymax adalah: Hiro—yang gak sengaja mengaktifkan Baymax dengan bilang ‘AW’ gegara kakinya ketiban buku XD Hiro nambahin program self defense ke dalam slot chip baymax dan bikin semacem desain kostum armour gitu. Dia juga ngajarin Baymax banyak hal seperti ungkapan2 dalam bahasa pergaulan dan bahkan fistbump-nya bersama Tadashi. Baymax meniru Fistbump itu dengan "Bah-la-la-la" nya  yang supercute XD


Dalam pandangan gw Big Hero Six itu keren banget. Sama exciting nya dengan ketika gw nonton How To Train Your Dragon 2 kemarin. Alur ceritanya yang rapih dengan tensi yang terjaga sampai akhir cerita bikin gw gak ngantuk di bioskop. Of course, meskipunnya twist nya adalah sesuatu yang sebelumnya udah lumayan bisa gw duga, tapi tetep aja deg2an pas liat scenenya, gw berdo’a mati2an semoga yokai dibalik topeng kabuki itu bukan Tadashi, hehe.


Hiro sebagai central figure di film ini juga  sangat manusiawi. Dia yang emang aslinya cuek dan selfish disini nggak ujuk2 berubah jadi baik. Hiro bahkan sempat menggunakan Baymax untuk menghancurkan orang lain dan hampir melukai teman2nya, jika saja Camera dimata Baymax tidak menyimpan moment terakhir Tadashi yang menyiratkan harapan terbesar nya akan kegunaan teknologi. Itulah yang menyadarkan Hiro dan mencegahnya melewati batas.


Big Hero Six mungkin berbeda dari Guardians Of Galaxy yang menonjolkan teamwork building. Film ini lebih mengedepankan sisi friendship dan brotherhood nya yang humanis dan indah. Disney juga gak lupa menyisipkan valuable lesson tentang kehidupan dan sentuhan ‘family movie’nya yang heartwarming. Bakcground music dan OST nya juga kece-kece loh!! Marvel juga nggak ketinggalan menyelipkan ciri khas nya dengan kemunculan cameo Stan Lee di after credit scene. dan...gw juga nggak akan lupa buat download filmnya, disimpen di Harddisk, trus ditonton deh kalo sewaktu-waktu kangen mereka XD *Aelah, katanya mao move on?* wkwkwk
A must watch; 8.5 out of 10 stars!!!

Rabu, 17 Desember 2014

Story of A Mother

Within the wood the mother came to cross roads, and she knew not which to take. Just by stood a thorn-bush; it had neither leaf nor flower, for it was the cold winter time, and icicles hung on the branches.
“Have you not seen Death go by, with my little child?” she asked.
“Yes,” replied the thorn-bush; “but I will not tell you which way he has taken until you have warmed me in your bosom. I am freezing to death here, and turning to ice.”
Then she pressed the bramble to her bosom quite close, so that it might be thawed, and the thorns pierced her flesh, and great drops of blood flowed; but the bramble shot forth fresh green leaves, and they became flowers on the cold winter’s night, so warm is the heart of a sorrowing mother.
                                                                   *****
Hari ini entah darimana muasalnya saya teringat cerita tentang seorang ibu yang pernah saya dengar tahun lalu. Saya mengenal kisah perjuangan sang ibu justru dari sebuah drama Asia yang storyline nya terinspirasi dari cerita ini. Tale yang ditulis oleh Hans Christian Andersen pada abad 18 ini sama sekali nggak familiar  bagi saya. Yeah… sebagai generasi 90an yang masih sempat rukun dengan cerita pengantar tidur dan dongeng2 dalam buku paket pelajaran di sekolah, cukup banyak karya2 Andersen yang akrab di telinga saya, sebut saja ‘Princess and Pea’, 'Thumbellina' dan ‘the little mermaid’, juga banyak lagi buah karya penulis yang well-known sebagai ahli dongeng ini  telah diterjemahkan ke berbagai Bahasa dan menjadi konsumsi anak2 dari berbagai era. Akan tetapi entah dengan alasan apa tale berjudul The Story of A Mother ini rasanya tidak sepopuler karya2 Andersen lainnya. Apakah terlalu ‘dark’? atau endingnya dianggap kejam untuk didengar anak2? Tapi saya personally suka sekali dengan cerita ini, selain karena terdapat banyak pesan moral di dalamnya, cerita ini juga mewakili hati dan pengorbanan seorang ibu demi anaknya.
Dengan bantuan om Google saya menemukan kisah utuh nya dan memutuskan membaca hingga tuntas. Saya terhenyak menyadari begitulah mungkin seorang ibu, terkadang mereka berusaha melakukan apapun demi memberi segalanya bagi sang anak, merasa lebih tau yang terbaik dan bahkan sampai bersikeras meyakinkan anak2 mereka. Dan dari sudut pandang saya sebagai anak, terkadang sikap kekeuh para ibu yang terkesan memaksa ini cukup menjengkelkan--terutama ketika kita berselisih pendapat dan merasa tau yang lebih baik bagi diri kita sendiri. Tapi begitulah ibu… tak ada yang tak bisa dilakukannya jika itu demi sang buah hati. Dan segala yang ia inginkan hanyalah kebahagiaan kita. Maka ketahuilah ketika terjadi pertentangan… kita hanya perlu membuat ibu kita mengerti bahwa tuhan tau yang terbaik, bahwa kita sungguh bahagia dengan pilihan kita, dan bahwa kita bahagia memilikinya yang selalu mengkhawatirkan kita.
Saya ingin menulis ulang kisah tentang seorang ibu tersebut disini, akan tetapi mungkin dengan standar penulisan amatir saya dan kemampuan menerjemahkan yang amat terbatas, juga deskripsi pendek dan umum dengan berbagai penyesuaian dari saya sendiri. Untuk versi asli dalam Bahasa Inggris nya dapat dicari sendiri di Google :p
Dan bersamaan dengan ini saya sampaikan kerinduan terdalam saya kepada ibunda nun jauh disana, love you mama! :’)
                                                            *****
Suatu malam, seorang ibu duduk di samping anaknya yang terbaring sakit. Wajahnya pucat, matanya terpejam dan sesekali terlihat sulit bernafas. Sang ibu menangis takut. Tiba-tiba seseorang mengetuk pintu, seorang kakek tua berjalan masuk dengan terbungkus pakaian dari kain yang kasar. Ia memohon untuk dibiarkan tinggal sejenak demi menghangatkan diri. Malam itu adalah puncak musim dingin, seluruh kota tertutup salju dan angin yang berhembus tajam bahkan seolah bisa menggores wajah. Sang ibu mengangguk, kepada si kakek tua ia menghidangkan semangkuk sup untuk menghangatkan tubuh, lalu duduk tak jauh dari sana. Sang ibu meraih tangan anaknya.
“Menurutmu aku akan bisa menjaganya, kan?” ujar sang ibu “Tuhan kita yang maha pemurah tak akan mengambilnya dariku, kan?”
Sang kakek--yang sesungguhnya adalah jelmaan dari kematian itu sendiri--mengangguk dengan gelagat yang aneh, entah bermaksud menjawab ya atau tidak. Sang ibu menundukkan wajahnya dengan sedih, bersamaan dengan air mata yang menetes dari ujung dagu lancipnya. Tiba-tiba saja kepalanya tersa berat, matanya perih. Sudah 3 hari 3 malam ia terjaga. Kemudian ia tertidur, sesaat, hanya sesaat… karena hembusan angin yang tajam membangunkannya. Ia melihat sekeliling dan menemukan bahwa pria tua itu menghilang— anak nya juga. Kakek tua itu membawa pergi anaknya. Segera saja ia berlari keluar sambil meneriakkan nama anaknya dengan pilu. Menerabas kegelapan malam, menyusuri jalan setapak yang membeku. Diluar sana seorang wanita mengenakan jubah hitam panjang duduk seorang diri, dan ia berkata pada sang ibu,”sejak tadi kematian duduk bersama mu di dalam rumah. Aku melihatnya bergegas pergi membawa anakmu, ia melangkah secepat angin… dan tak pernah mengembalikan apa yang telah dia ambil”.
“Beritahu saja aku kemana ia pergi, beritahu aku arahnya, dan aku yang akan menemukannya” pinta sang ibu.
“Aku tahu kemana kematian pergi, tapi sebelum aku memberitahumu aku ingin kau menyanyikan semua lagu yang selalu kau nyanyikan untuk anakmu. Akulah sang malam. Aku selalu mendengarkan lagu yang kau nyanyikan untuknya, dan bagaimana kau selalu meneteskan airmata saat menyanyikannya. Aku menyukainya, jadi nyanyikanlah untukku!” ujar wanita berjubah hitam.
“Aku akan menyanyikannya untukmu, tapi tidak sekarang! Aku harus mengejar kematian dan menemukan anakku…” jawab sang ibu. Akan tetapi sang malam duduk, dan tetap diam sampai sang ibu mulai menyanyi. Senandung yang bercampur dengan ratap dan air mata, terdengar sendu menyayat hati. Malam kemudian berkata, “Pergilah ke arah kanan, di hutan hitam yang penuh kegelapan. Aku melihat kematian membawa anakmu kesana.”
Di dalam hutan nan gelap itu sang ibu menyusuri jalan berliku, hingga ia menemukan persimpangan dan tak tahu harus kemana. Disana tumbuh serumpun semak berduri, tanpa sehelaipun daun atau bunga, selain salju yang menggantung di ujung-ujung rantingnya. “Apakah kau lihat kematian membawa anakku? Tahukan kau kemana ia pergi?” Tanya sang ibu.
“Ya!” jawab semak berduri itu,”Tapi peluklah aku dengan tubuhmu yang hangat itu, sebelum aku mati beku disini, aku sangat kedinginan…” pintanya.
Sang ibu lalu memeluk semak berduri seerat mungkin, sangat lekat, sampai ujung rantingnya menembus kulit dan merah darah mengalir dari tubuhnya. Perlahan daun-daun tumbuh dari cabang ranting semak berduri, bahkan bunga pun bermekaran di malam puncak musim dingin itu, dari kehangatan hati seorang ibu yang berduka. Lalu semak berduri menunjukkan kemana ia harus pegi. Sang ibu menemukan dihadapannya terbentang danau yang amat luas. Sebagian membeku tertutup es, akan tetapi tak cukup kuat untuk diinjak, terlihat dari gemerlap airnya yang rapuh. Tak ada satupun perahu disana. Sang ibu meratap pedih, akan tetapi tekadnya belum runtuh. Ia meminum air danau tersebut sambil berharap keajaiban akan datang, karena ia tau pasti ia tak akan pernah berhasil menghabiskan air di danau itu.
Sang danau yang melihat kesedihan ibu berkata “Mari kita buat perjanjian yang lebih baik dari upaya sia-sia ini, aku suka sekali mengumpulkan mutiara di dasar danau ku, dan kedua matamu itu adalah yang paling murni bersinar yang pernah kulihat. Berikan padaku mata indahmu… maka akan kubantu kau menyebrangi danauku dan mengantarmu ke tempat dimana kematian menyimpan pepohonan dan bunga milik kehidupan manusia”.
“Oh, Apa yang tak akan kuberikan jika itu akan mampu membawaku pada anakku…” Ratap sang ibu yang malang. Tanpa keraguan ia menundukkan wajahnya dan menangis hingga kedua bola matanya jatuh tenggelam ke dasar danau, dan berubah menjadi batu permata yang sangat berharga. Sang danau menepati janjinya, ia membawa ibu ke rumah tinggal kematian.
Sebuah lembah tertutup yang dikelilingi gunung-gunung menjulang tinggi, dan di tengah nya terdapat gubuk kecil tempat kematian tinggal. Sang ibu yang telah memberikan matanya kepada danau. tak mengetahui bahwa ia dikelilingi bunga-bunga dan pohon kehidupan manusia. Disana tumbuh segala jenis tumbuhan dengan  berbagai kondisi yang berbeda satu sama lain, ada pohon besar yang ditanam dalam pot yang kecil hingga akar2nya terlihat mendesak pot, ada pula bunga kecil nan rapuh yang ditanam dalam pot besar dan mewah. Kesemuanya itu merefleksikan kehidupan manusia di dunia, dan kesemuanya itu masing-masing dimiliki oleh manusia yang masih hidup. Sang ibu mendengar suara yang menandakan kedatangan seseorang, dan bertanya padanya,”Dimanakah aku bisa menemui kematian yang membawa pergi anakku?”
“Dia belum sampai kesini” sahut seorang wanita tua berambut putih,”Tapi bagaimana mungkin seorang manusia menemukan jalan sampai kesini? Siapakah yang telah membantumu?” tanyanya.
“Tuhan yang membantuku. Dia maha pemurah; dan tak akankah kau bermurah hati juga? Dimanakah aku bisa menemukan anakku? Bagaimana aku bisa mendapatkannya kembali?” Ratap sang ibu pada wanita tua.
“Apa yang akan kau berikan padaku, jika aku memberi tahu bagaimana cara menemukan anakmu?” Tanya wanita tua berambut putih. “Aku tak lagi memiliki apapun untuk diberikan, tapi aku bersedia pergi sampai ke ujung dunia untukmu!” jawab sang ibu yang nyaris putus asa.
“Aku tidak memerlukan apapun dari ujung dunia. Tapi kau bisa menghadiahkan padaku rambut hitam legammu yang cantik. Kau lebih dari tahu bahwa itu indah dan menyenangkan untuk dilihat. Sebagai gantinya kau boleh mengambil rambut putihku yanag usang!” ujar wanita tua tersebut. Sang ibu menghapus air matanya. “Apa hanya itu yang kau inginkan? Baiklah… aku akan menmberikannya padamu dengan senang hati.” Jawabnya sembari menghela nafas lega.
“Meskipun kau buta, kau masih bisa mendengar. Kau sendiri tahu bahwa setiap manusia punya pohon kehidupannya masing-masing. Setiap pohon memiliki detak jantung. Dengarkanlah, kau mungkin akan mengenali detak jantung anakmu.” Sang ibu lantas berjalan perlahan menyusuri begitu banyak tumbuhan yang berbaris seolah membentuk labirin. Ia sampai kepada sebuah tanaman kecil yang rapuh dan lemah, sekelilingnya ditumbuhi lumut yang lembut dan melindunginya. Sang ibu mengenali detak jantung itu, detak jantung anaknya. Satu diantara miliaran lainnya.
“Ini dia” lirih sang ibu sembari melingkarkan jemarinya menyentuh bunga lotus yang nyaris luruh itu.
“Jangan sentuh!” hardik wanita tua,”Jangan sentuh bunganya, tapi kau tetaplah disini sampai kematian datang. Saat itu jangan biarkan kematian mencabut tanaman anakmu. Kau bisa mengancam akan melakukan hal yang sama pada semua tanaman lainnya, itu cukup untuk membuat kematian takut, karena ia akan harus mempertanggungjawabkannya kepada tuhan. Dan tak satupun tanaman yang telah mati bisa dihidupkan olehnya—kecuali atas izin tuhan.” Selesai mengatakan semuanya, si wanita tua pun menghilang pergi.
Tiba-tiba sang ibu merasakan hembusan napas yang sedingin es datang menghampirinya. Sadarlah ia bahwa kematian telah sampai disana.
“Bagaimana kau menemukan jalan ke tempat ini?” Tanya kematian, “Bagaimana mungkin kau bisa sampai kemari lebih cepat daripada aku?”
“Aku seorang ibu!” Jawabnya.
Kematian lalu meraih pot berisi pohon kehidupan sang anak, akan tetapi disaat bersamaan sang ibu menahannya sekuat tenaga. Kematian lalu meniupkan napas nya yang sedingin es, dan seketika itu juga jemari sang ibu terkulai lemah.
“Kau tak akan bisa melawanku dalam hal ini” Ujar kematian
“Tapi tuhan yang kuasa bisa…” Jawab sang ibu
“Aku hanya melakukan perintahnya.” Lanjut kematian, “Akulah penjaga tamannya, aku juga yang mengantarkan tanaman2 ini ke taman surga di sebuah tanah tak dikenal. Siapa yang akan merawat mereka disana, dan seperti apa tempatnya, kau tak boleh tahu!”
“Berikan kembali anakku!!!” Jerit sang ibu sembari meraih dua pot berisi bunga yang amat cantik dan meratap sesenggukan, “Kembalikan anakku, atau Aku akan mencabut semua tanamanmu sebagai ganti rasa sakit ku!”
“Jangan sentuh itu! Kau bilang kau sedih, kau bilang kau sakit dan tak bahagia… apa kau juga akan membuat ibu lainnya merasakan hal yang sama sepertimu?” Sergah kematian. Sang ibu terhenyak, “Ibu yang lain?” lirihnya, ia melepaskan kedua pot itu sambil menangis. Kematian meletakkan dua permata di tangan sang ibu. “Ini matamu. Aku mengeluarkannya dari danau tanpa mengetahui bahwa itu milikmu. Aku mengambilnya karena matamu berkilauan begitu jernih di dasar danau. Ambilah, dan lihat kedalam sumur itu!” jelasnya sembari menunjuk sebuah sumur.
Pantulan air dalam sumur memperlihatkan kehidupan dua orang yang bertolak belakang. Yang satu menjadi berkah bagi dunia, begitu banyak kebahagiaan yang ia bawa, dan banyak pula yang peduli serta mencintainya. Yang lain hidup dalam kepapaan, rasa sakit, penderitaan dan sengsara. “Keduanya adalah masa depan dari bunga-bunga yang ingin kau hancurkan tadi, karena kepedihan dan keputusasaanmu!” Ujar kematian pada sang ibu, “Akan tetapi keduanya adalah kehendak tuhan”
“Manakah bunga yang bahagia? Dan yang manakah yang sengsara?” Tanya sang ibu. Kematian menggeleng, “Hanya sejauh inilah yang bisa ku katakan, akan tetapi ketahuilah, bahwa salah satunya serupa dengan gambaran masa depan anakmu!”
Sang ibu menjerit ketakutan, ia bertanya pada kematian sambil menangis, “Yang mana kah takdir milik anakku? Beritahu aku!!! Antarkanlah anak yang tidak bahagia, bebaskan ia dari penderitaan tak berkesudahan. Lebih baik kau ambil dia, bawa dia ke kerajaan tuhan yang indah. Lupakan semua air mata dan rasa sakitku, lupakan semua yang kukatakan atau kulakukan…” ratap sang ibu pada kematian.
“Aku tidak mengerti denganmu,” Ujar kematian, “Akankah kau mengambil kembali anakmu, atau haruskah aku membawanya ke tempat yang bahkan tak kau ketahui?”
Kemudian sang ibu berlutut sambil meremas tangannya, menangis dan berdoa kepada tuhan, “Jangan kabulkan doaku, jangan penuhi keinginanku jika mereka berlawanan dengan kehendakmu… jangan dengarkan do’aku…” ratapnya.
Kemudian kematian membawa sang anak bersamanya ke sebuah tempat yang tak seorangpun tahu.

                                                                      *by : Hans Christian Andersen (1848)

Sabtu, 22 November 2014

A GOOD TEACHER....

Gak sengaja keinget dulu pas masih kuliah smester I pernah punya dosen yang gw kagumin. Beliau ini profesor di bidang politik yang menyelesaikan sarjana Hubungan Internasional-nya di UGM, salah satu universitas terbaik yang dimiliki Indonesia. Gw ngerasa cocok banget sama pemikiran beliau yang realistis tapi juga nggak sarkas. Bukan idealis tapi juga nggak pesimis.

Salah satu momen yang gw inget banget adalah pas UTS smester I. Seperti dosen lainnya beliau juga ngasih kisi-kisi ujian dan seperti mahasiswa lainnya sebagian temen2 gw juga bikin contekan dari kisi-kisi tersebut. Tapi surprise nya adalah ketika tiba hari ujian... *jrengjreng* beliau berimprovisasi. Hahaa... jadi misalkan dalem catatan kita ada point a & b... yang beliau masukin kisi-kisi itu point a, tapi yang beliau keluarin pas UTS justru yang b. Dan dalam sekejap semua contekan yang disiapin temen-temen gw semaleman jadi sia-sia *evil laugh* haha. Dari persepsi gw, beliau sengaja ngelakuin itu untuk ngeliat siapa yang belajar buat UTS doang dan siapa yang belajar karena emang pengen belajar.

Dari segi penilaian pun dosen ini nggak kenal toleransi (dalam artian positif tapi), beliau nggak segan ngasih nilai (bahkan) 15 poin aja buat mereka yang emang jawabnya ngelantur, tapi beliau juga nggak sayang ngasih nilai 95 bahkan 100 full ketika mahasiswanya berusaha menjawab dengan tepat. Simpel memang kedengarannya, tapi sumpah... dari berbagai spesies dosen yang udah gw temuin, tipe kayak gini tergolong langka. Malah ada juga dosen yang hobi pukul rata nilai tanpa mandang usaha dan kemampuan mahasiswanya   -__-‘ dan ini tuh sumpah ngeselin banget, bikin kita ngerasa nggak dihargain.

Gw pernah punya diskusi kelas yang memorable banget pas beliau ngajar. Memorable karena pertama, gw seneng bisa ngeluarin pendapat secara bebas dan percaya diri (kan jarang2 gw PD gitu apalagi nyatain statemen yang cukup sinis) dan kedua karena beliau ngapresiasi pendapat mahasiswanya sebagai rekan diskusi, bukan sebatas mahasiswa sotoy yang aslinya nggak tau apa-apa (hehee). Waktu itu kondisinya baru selesai kampanye buat pemileg dan kebetulan bahasan kita waktu itu termasuk prosedur pemilihan dari masa-masa awal kemerdekaan sampe sekarang, stelsel (bener gak sih ni?) tertutup dan terbuka.

Dulu pas masih orba, kita nggak milih wakil rakyat dengan nyoblos nama secara langsung, melainkan memilih partai yang sudah mengajukan list nama kandidat mereka. Jadi suara kita nantinya itu bakal jadi amunisi kekuatan partai akan tetapi pada akhirnya elit partai lah yang menentukan kepada siapa kursi wakil rakyat diserahkan. Sedangkan sekarang, kita memilih secara langsung nama caleg yang kita suka dan merekapun kampanye secara langsung menggunakan dana pribadi. Ibu dosen ini bertanya kepada audience nya prosedur mana kah yang lebih demokratis? Mayoritas menjawab kalau yang sekarang lebih demokratis, minus gw yang cuma diem dengan fikiran gak fokus dan kemana-mana.

 “Kenapa menurut kalian yang sekarang lebih demokratis?” gantian sekarang semuanya diem. Jawaban simpelnya sih, emang udah stigmanya yang lebih “langsung” dianggap lebih demokratis kan? tapi masalahnya adalah, menjawab sesuatu berasa nggak semudah itu kalo yang nanya profesor, jadi... nggak ada yang jawab. Hihiii

“kalo kampanye secara langsung begini kan artinya para caleg harus...”

“Ngutang sana sini....” seseorang entah darimana motong omongan dosen itu dengan nada cuek, datar, dan bisik-bisik. Itu gw. Entah apa yang gw pikirin waktu itu, gw juga ngomongnya cuman bisik2 tapi karena kelas lagi super hening jadi ya kedengeran. Hehee

“iya mbak? Kenapa tadi?”

“eh... itu... ya gitu bu, si caleg kan pada suka ngutang sana-sini buat dana kampanye...” jawab gw ragu bin kikuk, kan nggak semua caleg juga kampanye pake ngutang atau istilah bagusnya “cari sponsor”.

“betul, tapi tau nggak kira-kira apa akibatnya kalo legislatif kita diisi sama mereka yang ngutang sana-sini?”

“korupsi bu...” jawab gw mulai PD karena dosen ini sama sekali nggak underestimating mahasiswanya.

“kenapa bisa korupsi?” pancingnya lagi.

“ya kan manusiawi bu, kalo hal pertama yang mereka kejar tuh balik modal dulu. Secara dana pribadi yang keluar buat kampanye kan nggak sedikit.”

“itu betul, tapi yang lebih buruk lagi adalah mereka akan terikat hutang dengan sponsornya dalam waktu yang lama. Secara halus kebijakan mereka akan di setir oleh pihak sponsor dan dimulailah ketidakberpihakan pemerintah pada kepentingan rakyatnya seperti yang kita lihat selama ini.” Lanjut dosen itu. Kita sekelas manggut-manggut. Lalu tiba-tiba seorang kawan, anak AN nyeletuk;

“kalo gitu mendingan sistem tertutup kayak jaman orba dulu dong bu?”
Waduh, ini adalah salah satu contoh orang yang berfikir super duper simpel, opsinya kalo nggak A ya B, hehe.... dosen itu ngasih isyarat gw untuk ngejawab.

“ya nggak juga sih. Kalo sistemnya begitu kan sama aja kayak beli kucing dalem karung (itu jargon yang sering gw denger lewat iklan waktu kecil dulu, mungkin propaganda buat pemilihan langsung. Gw gg terlalu ngeh soalnya waktu itu masih awal2 masuk SD) maksud kita milih siapa, tapi yang dipilih sama partai siapa. Makanya banyak KKN, yang ngisi jabatan ya kroni2nya elit partai semua.”
Sekali lagi nyaris sekelas nengok ke gw semua. “trus kalo semuanya kayak gitu, mana yang lebih baik dong?” kali ini temen sesama HI yang nanya, senior gw kayaknya. Gw nggak tau jawabannya, jadi gw angkat bahu...

“belom ketemu, kak. Masing2 ada kurang-lebih nya. Tapi yang saya yakinin sih... memperbaiki sistem politik itu hampir mustahil kalo nggak dimulai dari perubahan mental manusia2nya. Percuma. Dan yang lebih parahnya, harapan buat ngerubah mereka yang sekarang udah duduk di pemerintahan itu kemungkinan nya cuma 1%. Orang dewasa itu kayak ekor anjing, mau kita lurusin dengan cara di taroh dalam pipa selama 12 tahun juga pas dikeluarin ya bengkok lagi. Susah. Harapan kita Cuma ke generasi penerus, anak-anak dan pemuda. Harapan itu adanya cuman di pendidikan...” sampe situ gw berhenti, berasa aneh sendiri. lah kog omongan gw jadi kayak embah-embah gini ya, sotoy maksimal. Terus gw langsung nyengir2 nggak jelas gitu deh sembari ngeliatin bu dosen yang speechless. Ngerasa bersalah atas semua ke-sotoy-an gw yang frontal abis. Hahaha. Jelek. Sekarang anak sekelas bener2 ngeliatin gw. Aduh... gw malu.

                                                            *****

Tapi bagi gw hari itu adalah turning poin. Gw pengen berubah dari gw yang selalu ragu2 dan beraninya musiman doang, jadi pribadi yang emang berani bersuara. Jujur aja gw jagoan kandang. Gw berani bersuara lantang kalo sama temen2 atau keluarga, ketika dalam suasana santai. Tapi gw bakal mikir berulang kali kalo lagi di majlisnya orang pinter. Gw terlalu takut salah dan takut mempermaluin diri sendiri, jadi akhirnya keep silent. Padahal ketika ada orang lain yang berani bersuara dan nyatain pendapatnya gw sering ngebathin “ahh, bagusan gagasan gw kemana-mana!” tapi ya itu, omdo. Gw tetep aja gg berani maju. Sial...

Hari itu adalah turning point dimana gw mulai berlatih berani dan ngeyakinin diri sendiri kalo tugas pelajar adalah membuat kesalahan. Dan gw mulai ngerasain hasilnya sekarang. Belom maksimal sih, tapi nggak jalan di tempat juga. Dan gw percaya kalo nanti gw bakal bisa jadi orang yang PD-nya permanen, bukan musiman lagi. Gw bakal jadi orang yang bisa nyampein gagasan brilian dengan cara brilian juga, meskipun belom tau kapan, hehe.... all thanks to prof matkul politik gw ini dan satu lagi dosen EPN yang belom gw ceritain disini, mungkin akan gw bahas di tulisan berikutnya. Gw seneng punya kesempatan ngomong kayak gitu.

Gw masih OTW dan gw bakal nemuin tempat terbaik buat stay. Pasti!!

                                                            *****

*ditulis ulang dengan sedikit penyesuaian dan dramatisasi :p
*Posko Utara, 24 Oktober 2014

Rabu, 05 November 2014

Manusia Itu....

       .....Makin dewasa makin pesimis!!! :p

       Saya kasih emot melet di belakangnya bukan berarti itu statement nggak serius yah. Justru sebaliknya, kalimat ini amat-sangat-super-duper serius!!! (terbukti dengan tiga tanda seru ini). Ok, daripada saya makin nglantur panjang lebar dengan urusan tanda baca ini, kita lanjut aja ke pernyataan-pernyataan serius berikutnya.

       Kenapa saya membahas ini? Simply karena saya baru saja membaca keluhan seseorang (silahkan berspekulasi :p) tentang kebingungannya pada diri sendiri yang justru semakin pesimis seiring bertambahnya usia. Orang ini berusaha meyakinkan diri bahwa hidup belum berakhir, masih berusaha mengais puing-puing harapan untuk kembali membangun istana, tapi kenapa saya tulis disini? karena saya berharap kalau suatu saat dia membaca tulisan ini, dia akan tau bahwa dia nggak sendiri.

       Saya yang mungkin kelihatannya selalu optimis memandang masa depan sebenarnya juga punya ketakutan yang sama. Saya selalu dibayangi hantu "jangan-jangan" yang kejam luar biasa. Jangan-jangan nanti gagal, jangan-jangan usaha saya ini sia-sia, jangan-jangan hal itu nggak semudah kelihatannya, bahkan dalam sebuah seminar ketika saya ingin mengajukan sanggahan pun saya berfikir jangan-jangan ucapan saya nantinya konyol dan malu-maluin. Saya punya buaanyakk sekali "jangan-jangan" yang harus diakui mengekang langkah saya untuk maju, dan sejujurnya saya tau persis hantu "jangan-jangan" ini adalah penjelmaan dari sikap pesimis saya atas segala sesuatu. Sungguh saya nggak seberani apalagi setangguh kelihatannya. Tapi life must go on kan? jadi saya pura-pura aja berani... dan perlahan menemukan kenyataan bahwa "terkadang" si jangan-jangan itu juga suka bohong. Hidup nggak semenakutkan kelihatannya...


       Yang benar adalah... hidup itu kadang mudah, kadang susah. Kalo tiba giliran kita dikasih mudah ya bersyukur, kalo lagi dikasih susah ya bersyukur juga tapi "dengan porsi yang lebih besar", Insya Allah kesulitan itu datangnya satu paket dengan kemudahan. Yang anda perlu tau adalah, anda nggak perlu bingung ketika anda menemukan diri anda semakin pesimis setelah dewasa, karena anda dan saya nggak sendiri! saya rasa semua orang merasakannya. Simply karena perasaan seperti ini adalah salah satu 'ramuan' pendewasaan, pahit memang... tapi menyehatkan. Seseorang yang mulai dewasa akan menyadari realita dan mulai menemukan kenyataan bahwa hidup penuh dengan kekecewaan. Harapan berbanding terbalik dengan kenyataan?? sudah biasa! Karena itulah kita akan mulai pesimis dan mempertanyakan kemungkinan2 yang akan terjadi, lalu merasa takut.

       Itu sebabnya saya berani bilang bahwa anda dan saya tidak sendiri! Semua orang dewasa pasti melewati fase ini, bohong kalo ngaku2 nggak pernah pesimis!! karena kalau optimis terus mah mungkin kebanyakan baca dongeng kali, ikutan hidup di negeri dongeng dimana happily ever after itu ada. Dan yang kayak gitu mah namanya anak bocah... sekalipun seseorang terlahir dalam kehidupan yang 'seolah-olah' perfect dimata orang banyak, dia pasti kenal dengan yang namanya kegagalan, kekecewaan dan masalah, karena itu artinya kita masih hidup. Nggak ada yang salah dengan rasa pesimis, toh kan dia datang tanpa diundang. Yang masalah adalah cara kita menghadapi perasaan seperti itu... Jangan lupa kita punya "Dia". Jangan kesampingkan "Dia" yang meniupkan semua rasa itu ke hati kita, karena "Dia" selalu ingin kita datang padanya untuk membuktikan diri! 

Sabtu, 02 Agustus 2014

Toy Story Trilogy


       Okay, should i start now? --ehm-- *ceritanya batuk secara berkharisma*
Rasanya nggak perlu penjelasan lagi apa itu Toy Story Trilogy dan apa-apa aja isinya, karena eh karena, saya nulis postingan ini bahkan telat EMPAT tahun sejak saga ini tutup buku. Sedikit terlambat memang (banyak ding), tapi so what?? toh basically blog ini memang dibuat untuk konsumsi pribadi saya, semacam reminder moment gitu. 

       Ketertarikan terhadap trilogi ini dimulai dari HTTYD 1 yang tayang 2010 silam dan baru tayang sekuelnya bulan lalu. Apa hubungannya? karena saya sering blok walking seputar info HTTYD ini, nggak sengaja aja saya menemukan sebagian besar--kalau bukan seluruhnya-- movielovers sependapat bahwa HTTYD berkesempatan membawa pulang OSCAR jika saja tidak tayang bertepatan dengan Toy Story 3 yang memang luar biasa dan lebih pantas menerima penghargaan tertinggi sebagai Best Animated Feature di ajang bergengsi tersebut. Saya jadi mikir, ah... kalo mereka bilang 'lebih pantas' keluar sebagai winner mengalahkan HTTYD, maka paling tidak film nya nggak akan terlalu membosankan, bukan? ditambah lagi pencapaian komersialnya yang melampaui 1 Milyar dolar dan menempatkan Toy Story 3 sebagai film animasi terlaris sepanjang masa (saat itu).
       Akhirnya saya memutuskan untuk menindaklanjuti rasa penasaran saya akan trilogy ini. Sebenarnya film ini sudah sering tayang di TV, terutama edisi libur sekolah kayak sekarang, cuma aja saya nontonnya nggak pernah sampai khatam. Apalagi saya itu tipe penonton yang ngerasa nggak afdhol nonton sekuel kalau belum lihat prekuelnya, jadilah saya semalem suntuk ngubek-ngubek indowebster buat ngelengkapin koleksi toy story ini. dan untuk menebus dosa besar saya karena melewatkan trilogi ini, saya nonton maraton sampe pagi. hehe... Awalnya ketika mulai menyalakan Gom-Player, saya tidak berekspektasi tinggi dengan apa yang akan saya dapat dari film ini, secara... tokoh utamanya aja para mainan yang notabene hanyalah benda mati, itu membuat saya ragu apakah saya bakal dapet feel-nya? tapi yang saya dapatkan justru diluar dugaan. Pixar, entah bagaimana, sepertinya memang belum pernah membuat film yang mengecewakan (Cars pengecualian karena saya belum nonton :p).

       Trilogi ini dimulai dengan seri pertamanya yaitu Toy Story yang rilis pada tahun 1995 (udah masuk masehi sih, but still...) waktu itu saya bahkan belum 3 tahun dan jujur aja... belum kenal bioskop, jadi kesimpulannya ya saya nggak nonton. Film animasi yang sempat ditolak disney ini menghabiskan dana dan kru yang lebih sedikit ketimbang film blockbuster Disney tahun 1994 yaitu the lion king, sampe2 kabarnya mereka batal meminta Jim Carrey untuk mengisi suara Buzz Lightyear karena keterbatasan anggaran. Beberapa pihak juga menganggap film ini akan gagal di pasaran, sebut saja Mattel yang melarang karakter Barbie ditampilkan dalam film pertamanya (tapi setelah terbukti sukses, ia mengizinkan Barbie tampil di TS2 dan 3, fyuhh...), juga Billy Crystal yang sempat menolak tawaran mengisi suara Buzz Lightyear dan pada akhirnya mengakui penolakan tersebut sebagai kesalahan terbesar sepanjang karirnya. Entahlah, mungkin kekhawatiran itu muncul karena tema yang diangkat 'hanya' soal mainan, alasan yang sama dengan alasan saya bertahun-tahun melewatkan trilogi keren ini. Tapi nyatanya, Toy Story justru menjadi legenda dalam dunia animasi.
  

        Film pertamanya bercerita tentang Woody dan kawan2 mainannya yang ternyata hidup ketika tak ada yang melihatnya. Woody merupakan mainan kesayangan Andy (pemilik mereka) sejak TK, sampai ketika ibu Andy membelikan mainan luar angkasa keren Buzz Lightyear yang saat itu lagi booming. Woody tersingkirkan dengan kedatangan Buzz, setidaknya begitulah yang Woody pikirkan, karena ia tak sempat melihat betapa rindu Andy padanya ketika ia hilang. Suatu insiden membuat Buzz dan Woody terjebak di rumah Sid Phillips, seorang anak Psycho yang hobby menyiksa mainan, disanalah Woody dan Buzz belajar berteman. well... scene ketika Buzz melihat dirinya dalam iklan dan menyadari bahwa ia hanyalah mainan dan bukan space ranger sungguhan terasa sangat berkesan bagi saya, lebih berkesan lagi ketika Woody meyakinkan Buzz untuk menghargai diri sendiri bagaimanapun keadaan mereka, dan bahwa di seberang rumah sana ada seorang anak yang begitu mencintai mereka dan menganggap mereka yg terhebat bukan karena mereka superhero, melainkan karena mereka adalah mainannya. Buzz dan Woody mengajarkan bahwa apapun posisi kita atau serendah apapun itu menurut ukuran manusia, akan selalu ada orang-orang yang sungguh menghargai kita dan bahagia dengan keberadaan kita. Pixar dengan kerennya berhasil menciptakan karakter2 yang manusiawi dalam diri mainan2 ini, memorable... apalagi melihat Sheriff Woody yang jealousnya lucu, dengan sedikit arogansi dan sifat pencemburunya.


       Sekuelnya rilis 4 tahun kemudian yaitu pada 1999, masih dibawah arahan John Lasseter selaku sutradara. Sudah menjadi ketakutan yang lumrah dalam dunia perfilman bahwa sekuel selalu dibawah kesuksesan predesornya. Namun Toy Story 2 mampu membuktikan bahwa hal tersebut tidak berlaku di tangan team Pixar. Toy Story 2 kembali hadir dengan cerita yang manis, tentang bagaimana menentukan satu diantara dua pilihan yang sama-sama baik. Woody tidak pernah menyadari bahwa ia adalah mainan berharga dari masa lalu, laluuu banget sampai2 suatu museum di Tokyo berani membayar mahal untuk sebuah koleksi lengkap karakter dari cerita koboi entah di jaman apa. Di sana Woody bertemu dengan Jessie, cowgirl keras kepala yang trauma karena pernah dibuang pemiliknya ketika beranjak dewasa, Bullseye, seekor kuda (mirip keledai) yang manuutt banget sama Woody, dan entah siapa namanya itu boneka kakek tua jelek yang ternyata adalah tokoh antagonisnya, wkwk. Nothing last forever, apalagi mainan yang prinsipnya sekali rusak buang. Saat itu Woody yg sempat rusak harus memilih, kembali pada Andy dan teman-teman sesama Toys nya yang telah susah payah datang menjemput, atau ikut ke Museum dan dihargai sebagai karya seni, akan tetapi kehilangan Andy dan kesempatan terbaiknya untuk membahagiakan anak2? Dengan harga ia mungkin akan menghabiskan seumur hidupnya tersenyum dari balik etalase kaca tanpa pernah dicintai lagi selamanya. Dan seperti yg kita tebak... ia memilih Andy. Ia tau bahwa suatu saat nanti nasibnya akan berakhir di loteng (gudang) atau tempat sampah, Andy akan tumbuh dewasa dan berhenti memainkannya. Akan tetapi bagi woody kebahagian mendampingi Andy dan melihatnya tumbuh dewasa akan sepadan, Woody tak ingin melewatkan saat2 bersejarah itu. Ia bahkan mengajak Jessie dan Bullseye ikut. Menurut saya Woody melakukan hal yang benar, diantara dua pilihan yang sama baiknya, ia memilih satu yang lebih sejati. Bagian paling lucu di Seri kedua ini ada di credit title-nya, para Toys ini berlagak seolah mereka aktor sungguhan yang bisa salah akting juga. kocak, ngakak parah liatnya, di bagian terakhir ada si barbie yang berakting seperti guide dan bahkan sempet2nya memperingatkan para penonton bioskop untuk jangan lupa membuang sampah popcorn dan minuman pada tempatnya.

 

       Lebih satu dekade kemudian... penutup sempurna untuk petualangan para mainan ini pun rilis. Waw... Satu dekade lebih a.k.a 11 tahun!! Posisi director telah pindah ke tangan Lee Ukrich. Akan tetapi, alih-alih kualitas cerita yang menurun Toy Story 3 justru tampil lebih, dilihat dari sisi manapun. Setting yang diambil dalam Toy Story 3 pun sesuai dengan perjalanan waktu kita-kita yang hidup diluar layar. Andy saat itu sudah menginjak usia 17 tahun dan harus pergi kuliah yang mengharuskannya tinggal di asrama. Mau tak mau teman-teman masa kecil nya harus ditinggal. Andy mencintai semua mainan itu, tapi pada akhirnya hanya Woody--sahabatnya sejak TK-- yang ia bawa. Mulanya ia hendak menempatkan mainan2 itu di loteng, akan tetapi Ibu Andy yang salah mengira itu sampah meletakannya di pinggir jalan. Maka dimulailah petualangan mereka terdampar di mana-mana dan usaha para toys untuk kembali pada pemiliknya. Dari mulai daycare Sunnyside yang dikuasai beruang jahat bernama Lotso, rumah Bonnie, sampai ke tempat pembuangan akhir. Bagian yang paling menegangkan adalah saat mereka hampir mati di tempat pembakaran sampah raksasa yang mana terlihat seolah tak ada jalan keluar, helpless total. saya bahkan sempat berfikir inikah endingnya??? Namun ternyata tanpa diduga pertolongan datang dari boneka2 alien kecil pizza planet, yep... anak angkatnya mr and mrs potatohead itu lohh, haha. However melalui scene itu saya belajar satu hal tentang keberanian, bahwa kita selalu bisa memilih untuk menghadapi kehilangan dan rasa takut, atau bahkan kematian dengan keberanian dan dignity... what a good advice! Best Part? tentu saja endingnya, ketika Andy mewariskan mainan2nya pada Bonnie. Dan Woody... meskipun Andy begitu menyayanginya dan berniat membawanya ke asrama, tapi apakah ia jadi ikut? Gladly to say; Nope! Woody belajar satu hal ketika melihat ibu Andy dengan berat hati melepas kepergian putranya, Andy menenangkan dengan berkata bahwa ia akan selalu bersama ibunya. Ketika berbalik, Woody melihat foto Andy kecil bersama seluruh mainannya di dalam kardus. Andy akan membawa serta foto mereka ke asrama dan itu membuat Woody tersadar bahwa Andy takkan melupakan teman2 masa kecilnya, ia selamanya akan tetap membawa mereka... dalam kenangan. T,T. Dan sama seperti orang tua yang selalu ingin mendampingi anak2 mereka, Woody juga ingin selalu ada untuk Andy sebagai sahabat, akan tetapi ketika saatnya tiba... suka ataupun tidak, setiap anak harus melangkah maju dan menemukan kehidupan baru. Begitulah seharusnya hidup. Entah gimana jelasinnya tapi saya ngerasa scene itu menyentuh banget, semacam unconditional love yang meskipun berbalas tapi nggak tersampaikan, ah... gimana ya istilahnya? Jadi gini